Friday, October 30, 2015

Event Report: Bioderma Hydrabio Launching Event


Hai!

Jadi pada tanggal 3 Oktober 2015 lalu saya berkesempatan menghadiri launching event rangkaian produk Hydrabio dari Bioderma. 

Oke, sekilas info tentang Hydrabio dulu ya. Jadi Bioderma sendiri memiliki beberapa line produk, salah satunya adalah Hydrabio ini yang diformulasikan khusus untuk kulit kering dan sensitif. Rangkaian produk Hydrabio sendiri lumayan lengkap, dari pembersih wajah, milk cleanser, face tonic, sampai facial spray. Sayangnya saya kurang tahu ada berapa jenis produk Hydrabio yang di-launch di Indonesia karena untuk web Bioderma Indonesia sendiri belum update mengenai hal ini.

Baiklah, now to the event report.




Acara dimulai dengan sambutan dari Amandine Cornut selaku direktur Dermanesia.



The most fun part was when Mr. Yi Chieh Tan menjelaskan dari A sampai Z mengenai produk Hydrabio ini dan pentingnya produk ini untuk kulit kita, terutama berada di tengah kota yang penuh polusi seperti Jakarta. Cara menjelaskan beliau cukup fun, dan orangnya bubbly banget, sampe susah difoto. Gak sengaja aku jepret beliau pas lagi pose ala Sailor Moon. Hehehe...



Ada juga door prize buat blogger yang sudah berani menjawab pertanyaan dengan benar. Hadiahnya apalagi kalo bukan Hydrabio Brume-nya (yang bikin saya penasaran banget pengen nyoba).


Gaya Endi Feng yang epic banget mendemonstrasikan cara dia memakai Hydrabio Brume ke wajahnya.


Dan, karena ini event yang dihadiri oleh para Beauty Blogger, so gak lengkap dong kalo gak ada makeup demo.



Our pro makeup artist yang diundang adalah Mr. Iwan Harun, dan kehormatan menjadi modelnya jatuh pada Tia dari Utotia. Hehehe... Mr. Harun menggunakan seluruh rangkaian produk Hydrabio, dari serum, sampai facial spray-nya pada demo makeupnya. Sebagai catatan, beliau mengaplikasikan Hydrabio Brume sebagai final touch.




Beberapa tester yang sengaja dipajang di beberapa spot ruangan. Asliii, bikin tangan gatel pengen icip-icip.




Ada juga booth yang disediakan bagi para undangan untuk memenuhi hasrat kenarsisannya.



Di akhir acara, seluruh tamu undangan menyempatkan diri berfoto bersama. Hayooo, siapa aja wajah-wajah di sini yang kamu kenal?


***


Demikian event report saya. Oh ya, saya juga sempet mereview Hydrabio Brume loh. Salah satu produk yang paling bikin saya penasaran pengen nyoba, dan Bioderma berbaikhati memberikan saya (dan undangan lainnya tentu saja) untuk mencobanya. Kamu bisa baca review-nya di sini.

Sampai jumpa!






Review: Bioderma Hydrabio Brume


Beberapa waktu lalu gue menghadiri event Bioderma dalam rangka peluncuran perdana produk range Hydrabio di Indonesia. Sedikit informasi, Hydrabio adalah salah satu range produk Bioderma yang dikhususkan untuk kulit sensitif. Ada beberapa produk yang berada di bawah naungan Hydrabio ini yaitu, milk clenaser, toner, face cleanser, facial spray, dan dua jenis pelembab untuk kulit kering dan kombinasi. Tapi yang mau saya review kali ini adalah facial spray-nya atau yang lebih spesifik disebut dengan Bioderma Hydrabio Brume. Cieeh elah, resmi banget bahasa gue.



Bioderma Hydrabio Brume ini dikemas dalam botol aerosol bernuansa putih biru, seperti halnya produk Hydrabio lainnya.



Botol aerosol ini memiliki pump yang bagus, tidak seperti botol spray biasa. Jadi bisa dipastikan produk yang dikeluarkan akan menyebar secara merata dengan mudah. Cukup tekan sedikit saja pump-nya, produk akan langsung keluar banyak. Ga usah napsu mencetnya. Jangan lupa kasi jarak sekitar satu jengkal antara wajah dan spray. Oh ya, karena jangkauan semprotnya yang cukup lebar, kerah baju bakal agak basah sedikit. Tapi jangan kuatir, cepet keringnya kok. Produk ini juga tidak memiliki bau sama sekali.




Ingredients:

AQUA/WATER/EAU, ZINC SULFATE, MANNITOL, XYLITOL, RHAMNOSE, FRUCTOOLIGOSACCHARIDES, POTASSIUM PHOSPHATE, MAGNESIUM SULFATE, SODIUM CITRATE, CALCIUM CHLORIDE, SODIUM BICARBONATE, SODIUM CHLORIDE, CITRIC ACID, DISODIUM PHOSPHATE, POTASSIUM CHLORIDE, NITROGEN. [BI 472]


Mungkin banyak yang belom familiar dengan yang namanya facial spray (dan saya juga yakin kalo banyak juga yang udah tau kok hehehe). Fungsinya apa sih? Banyak. Awalnya gue juga mikir, kurang kerjan amat semprot-semprot muka pake beli aer botolan segala, tinggal cuci muka atau ambil wudhu aja langsung beres.

Selain fungsinya untuk menyegarkan dan melembabkan, Bioderma Hydrabio Brume ini juga diklaim bisa meredakan rasa terbakar pada kulit yang teriritasi ringan (seperti sunburn, razor burn, habis peeling, etc). Terus terang kalo soal klaim ini saya belom pernah nyoba, karena hingga saat ini saya belom mengalami iritasi apapun (amit-amit sih...). Selain itu, Bioderma Hydrabio Brume juga diklaim aman untuk semua usia, termasuk bayi. 

Kalo gue, kalo gue nih, menggunakan Bioderma Hydrabio Brume ini habis mandi sebelum pake skincare apapun, tunggu kering sebentar baru dilanjutin pake toner, pelembab, dan makeup. Dan gak tau kenapa, muka gue jadi lebih tidak berminyak. Yaaa minyakan tetep, tapi sedikit berkurang. Siang-siang pas lagi kepanasan. Kalo siang-siang juga gue suka iseng semprot ini ke muka, rasanya jadi seger seger dingin gimana gitu. 

Gue pernah pake facial spray merk Evian, dan sedikit perbandingan aja kalo Evian di gue agak lama keringnya. Jadi suka gue keringin pake tissue, sedangkan untuk Bioderma Hydrabio Brume ini lebih cepat kering dan menyerap ke kulit. Mungkin ini karena butiran spray-nya lebih kecil dan lebih menyebar dibanding Evian. Tapi kalo untuk efek lembabnya sih gue gak merasakan perbedaannya. Sama moist-nya.




Bioderma Hydrabio Brume tersedia dalam kemasan 50 ml seharga IDR 99,000 dan kemasan 300 ml seharga IDR 220,000 dan bisa didapatkan di Guardian. Dua jenis ukuran ini memiliki ukuran pump yang sama, jadi biarpun kamu punya yang ukuran kecil, jangan khawatir semprotannya gak enak dipake. Yang membedakan cuma netto-nya aja kok. 






Saturday, October 24, 2015

Review: Viva Eye Shadow Cream (Merah, Silver, Ungu, Hitam, Coklat Dark,Peach, Gold)



Sebetulnya udah lama gue punya Viva Eye Shadow Cream ini, dan pas awal-awal make, jujur gue gak suka. Jadi males aja ngereviewnya. Tapi entah kenapa sejak negara api menyerang, kejadian tersebut membuat gue mendapatkan inspirasi baru dalam hal tata cara penggunaan Viva Eye Shadow Cream ini. Jadi mari kita mulai saja review kali ini.



Oke kemasannya yah. Hmmm, udah berapa kali gue review produk Viva, bahkan mungkin merk ini lah yang paling sering gue review. Gue demen ama Viva, tapi paling kaga demen ama kemasannya. Dia berupa lempengan biru dengan tutup plastik transparan. Di tengah kemasan putihnya itu terdapat sebuah ceruk kecil, nah di tengah ceruk itulah produknya ditempatkan. Dikit banget sih, orang isinya cuma 1,5 gram. Enaknya, tutupnya transparan. Jadi ga susah mencari warnanya kalo kebetulan kamu punya produk ini lebih dari satu.

Satu lagi yang gue gak suka, tutupnya itu gak bisa menutup dengan sempurna dan gampang banget copot. Jadi Viva Eye Shadow Cream ini nasibnya kasian juga kalo masuk pouch kosmetik, karena tempat dan tutupnya dijamin bakal misah kalo gak kamu selotip atau karetin. Daaan bisa dijamin itu isinya bakalan banyak kecolok.

Gue beli Viva Eye Shadow Cream ini di website Viva (vivacosmetic.com) seharga IDR 7650 untuk isi 1,5 gram.


Varian yang gue punya: merah, ungu, dan silver.

 Viva Eye Shadow Cream ini sebetulnya ada dua jenis. Yang biasa dan yang special color. Yang special color harganya lebih mahal (di web sekitar IDR 12 ribuan). Tapi varian yang gue punya sih yang biasa aja. Ga tau ya apa bedanya yang ini sama special color. Padahal kalo gue liat sih yg special color itu warnanya standar aja.. Ntar kapan-kapan kalo gue beli lagi bakal gue compare deh perbedaannya.


Ungu.
Warnanya ungu muda dengan seidkit hint pink.

Merah.
Yang ini merahnya agak menjurus ke coral.

Silver.
Yang ini warnanya paling cantik and paling pigmented di antara ketiga varian ini.


Tekstur dari Viva Eye Shadow Cream ini berupa krim padat, malah kalo gue bilang sih agak sedikit keras. Jadiii gue sangat menyarankan kalian untuk menggunakan jari ketika mengaplikasikannya. Gak bakal sukses deh kalo pake aplikator. Bisa sih tapi dijamin bakal banyak produk yang nempel di aplikator ketimbang yang nempel di kulit kita.



Untuk warna ungunya, kalo ditebelin baru keliatan ungu, tapi begitu dibaur sepintas mirip pink. Sedangkan untuk yang merah dan silver, warnanya memang keluar sesuai dengan apa yang ada di pan.

Pigmentasinya gue bilang sih lumayan. Swatch di atas itu gak pake eye primer atau eye base sama sekali loh. Cuma gue colek pake jari. Yang paling yahud sih warna silvernya, dia yang paling pigmented di antara ketiga varian ini, dan sangat sparkly.


***

Gue terus terang gak suka pake eyeshadow cream karena kelopak mata gue berminyak. Bisa-bisa luntur atau bleber kemana-mana kalo pake ini. Jadi gue lebih suka menggunakan Viva Eye Shadow Cream ini sebagai eyeshadow base supaya warna eyeshadow gue lebih keluar. Mungkin ada yang tau palet eye primer dari Sleek? Nah jadi daripada gue mahal-mahal beli Sleek, mendingan gue koleksi aja semua warna Viva Eye Shadow Cream ini. Gitu. Jauh lebih murah. Yaaa tapi ini baru sebatas wacana, pengejawantahannya sih kaga tau kapan.

Sebelom pake ini gue sih tetep make eye primer, baru abis itu gue pakein eyeshadow cream ini trus ditimpa lagi pake eyeshadow biasa. Heheh tumpuk-tumpuk ya.

Ini contoh pemakaian Viva Eye Shadow Cream sebagai eye base:


Yang di atas gue menggunakan warna silver sebagai eyeshadow base dan ditumpuk dengan bubuk glitter putih dari La Tulipe.




Untuk warna merah pada gambar di atas, gue menggunakan Viva Eye Shadow Cream warna merah sebagai eyeshadow base, baru abis itu gue timpa lagi pake eyeshadow Sugarpill yang Love+. Emang siiiih, Sugarpillnya udah pigmented, but trust me, tanpa Viva Eye Shadow Cream warna merah, hasilnya tidak akan sekece dan semerah seperti di gambar itu. Bener dah. Sedangkan untuk hitamnya, gue menggunakan gel liner SilkyGirl yang hitam sebagai eye base dan eyeshadow hitam dari Sleek Acid Palette. Just info.

Sayangnya untuk yang ungu, gue belom sempet bikin contoh eye makeupnya. Ada sih, cuman belom layak ditampilkan. Berantakan. Benci gue liatnya.

Oh ya, selain eyeshadow base, dari beberapa review yang gue baca, banyak juga sih beauty blogger yang pada kreatif-kreatif menggunakan Viva Eye Shadow Cream ini buat yang lain selain eyeshadow. Kayak hitam buat eyeliner, trus coklatnya buat alis (jadi kayak dipbrow pomade kali ya hehehe), bahkan gue kepikiran pake ini buat shading cream (warna coklat), highlighter (warna bronze), dan blusher (warna peach dan orange).

Ahhh bener kan, jadi pengen koleksi semua warnanya ih. Ya udah, ntar kalo wacana gue ini berhasil diwujudkan, bakal gue update di sini ya hehehe.



***


Update on Oct 24, 2015

Viva Eyeshadow Cream in Hitam, Coklat Dark, Peach, dan Gold



Yeaaa, akhirnya gue berhasil mengejawantahkan wacana gue enam bulan lalu untuk menambah koleksi eyeshadow cream dari Viva. Emang belom semuanya sih berhasil gue koleksi (keterbatasan dana, serius) tapi seenggaknya ada beberapa warna yang nambah lah. Sesuai judulnya, warna yang gue beli baru adalah item, coklat tua, peach, dan gold.



Sekedar info, untuk warna hitam dan coklat tua berasal dari varian warna reguler, sedangkan peach dan gold-nya berasal dari varian 'special color'. Begitu menurut keterangan yang gue baca di web. Jadi si peach dan gold ini harganya sedikit lebih mahal.

Gue beli produk ini di web Viva seharga IDR 7650 untuk warna reguler dan IDR 12.700 untuk varian special color.

Untuk harga di luar web seharusnya lebih murah ya.

Oke, karena pembahasan mengenai kemasan, tekstur, dll, udah gue bahas di post bagian atas, jadi langsung aja kita bahas warnanya ya.



Gue merasa 'karir' gue sebagai mba-mba tukang rias di kampung cukup terbantu dengan adanya produk ini. Eyeshadow cream hitam ini suka gue pake sebagai eye base untuk eyeshadow warna apapun dan warna yang dihasilkan akan jadi lebih intens. Kerennya lagi, warna hitam ini juga matte, no shimmer at all. Lumayan banget daripada musti beli NYX Jumbo Eye Pencil yang warna Black Bean. Mahal.

Untuk sehari-hari kadang gue suka pake buat eyeliner tapi jarang, kalo kevevet aja, soalnya di gue jadi smudge. Maklum, kelopak mata gue berminyak pake banget.



***




Nama shade-nya emang yaelah banget deh: COKLAT DARK. Emang Viva paling jagoan bikin nama shade yang epic dan fenomenal. Warna coklat yang 'dark' ini hasilnya matte dan memiliki warm undertone, alias sedikit kemerahan walau tidak terlalu 'merah' seperti warna pensil alisnya Viva. Warna ini di gue paling banyak gunanya. Selain buat eyeshadow bisa juga buat eyeliner, ngegambar alis (kayak ABH pomade jadinya), dan shading hidung. Walau katanya shading menggunakan warna coklat dengan warm undertone itu salah, tapi gue ga ngerasa begitu ya dengan warna ini. Entahlah, please correct me if I'm wrong.



***




Peach adalah varian dari eyeshadow cream special color. Sesuai dengan namanya, warna peach ini adalah perpaduan jingga dan merah muda. Sengaja gue kasi foto yang pake flash dan no flash biar keliatan shimmer-nya. Fyi, ini shimmer-nya bener-bener high impact to the max. Sebagai eyeshadow, warna ini cakep banget buat dipake sebagai highlight di tengah kelopak mata. Kadang gue suka pake juga buat highlight bibir setelah pake lipstik. Cukup di tap-tap aja di bagian tengah bibir pake jari and see the magic happens.



***




Sama dengan peach, Gold juga termasuk varian special color. Gue beli karena merasa ini adalah salah satu warna netral selain coklat, hitam, dan silver, jadinya ya harus punya. Sayangnya sampe sekarang gue belom tau warna ini mau diapain selain buat eyeshadow. Mungkin bakal gue terapin cara kayak eyeshadow peach di atas. Ada yang bisa kasih inspirasi?


***


Baiklah para pembaca yang budiman, sebelum post ini gue akhiri, sebagai penulis yang baik, tidak lupa gue sertakan di sini swatch di tangan dari masing-masing warna di bawah pencahayaan yang berbeda. Nantiiii, kalo gue ada rejeki dan kepengen beli eyeshadow cream Viva lagi, bakal terus gue update di post ini ya.

Sampai jumpa lagi.


Top: without camera flash
Bottom: with camera flash







Sunday, October 18, 2015

Review: Viva Peeling Cream


Pas peeling Mundisari gue habis, gue sengaja emang nyari peeling merk lain. Bukannya gak suka. Tapi Mundisari itu kemasannya kegedean, isinya kebanyakan. Sampe berbulan-bulan baru abis. Males aja gitu ngeliat ada 'produk basah' yang udah berbulan-bulan tapi tak kunjung habis. Nah selain Mundisari, peeling yang gue tau itu cuma dari Viva.

Tadinya gue agak-agak gimana gitu pas beli peeling cream Viva ini, soalnya gue gak cocok pake semua milk cleanser-nya. Perih banget. Tapi yaaa, ibarat lo kenal sama satu orang yang ngeselin, tukang minjem, nyolot, belagu... tapi belom tentu semua sodara dia ngeselin kan? Jadi gue pikir ga ada salahnya juga gue coba produk ini. Murah pula. Kalo ga salah harganya itu sekitar 7 ribu Rupiah di website Viva. Kalo ga salah di web-nya itu juga dijual peeling versi gedenya yang buat salon.



Kemasan Viva ini mungil banget, isinya aja cuma 22 gram. Ada beberapa produk Viva yang dikemas dalam kemasan yang sama seperti ini, cuma beda di stiker depannya aja. Waktu pertama kali beli, peeling ini di seal dengan plastik dan price tag.



Terdapat kode produksi dan tanggal kadaluarsa produk di bagian bawahnya, lengkap juga dengan logo halal.



Begitu tutupnya itu dibuka, kalian akan langsung bisa melihat isi produknya. Gak ada aluminum seal whatsoever ya. Agak kurang higienis sih ngeliatnya, tapi ya, whatever lah. Yang penting dijaga aja supaya tutupnya rapet terus.

Tekstur krim-nya itu putih dan sedikit agak mengkilat. Mungkin kalo pernah liat tekstur krimnya Citra Hazeline, kira-kira mengkilatnya hampir seperti itu. Dan karena produk ini peeling, udah pasti ada butiran scrub-nya. Pas gue raba, scrub-nya itu gak sekasar scrub Mundisari. Bau produk ini juga sedikit wangi tapi untungnya gak sewangi produk Viva pada umumnya.



Cara pakenya di gue itu, cukup colek produknya lalu diseka ke muka yang udah sedikit dibasahin, lalu pijat perlahan. 

Setelah diseka, muka gue masih berasa licin jadi gak terlalu terasa kering. Tapi namanya juga peeling, pasti ada rasa perihnya. Biasanya gue lanjut pake pelembab (Olay Total Effect) biar muka berasa 'adem'. Kalopun mau pake masker, gue akan kasi jeda beberapa menit dulu sampe perihnya hilang.

Gue juga menggunakan peeling ini untuk scrub bibir rutin dan juga untuk mengangkat sisa matte lipstick yang susah dibersihin. Rasanya emang sabun banget, tapi scrub-nya jauh lebih halus dibanding scrub bibir biasa. So pasti di bibir juga terasa lebih lembut.

Peeling ini sekarang jadi produk favorit gue, sampe nyedian stok beberapa jar di rumah. Enak, ga bikin kering atau jerawatan. Satu jar peeling yang isinya cuma 22 gram dan sangaaat sedikit ini ternyata bisa bertahan lumayan lama. Ya karena itu tadi, gue kalo peeling pakenya sedikit aja. Yang penting efektif. Oh ya, jangan sekali-kali menggunakan peeling wajah waktu muka lagi jerawatan ya. Ntar jerawatnya tambah parah. Ga apa-apa sih, tapi jerawatnya jangan sampe kena.






Saturday, October 17, 2015

Review: Make Up Forever Artist Plexi-Gloss (200, 201, 301P)



So a couple of months ago I won a giveaway held by my friend Irene Widya collaborated with Make Up Forever Indonesia, and won these three Artist Plexi-Glosses. They were launched just recently. And oh yeah, I was feeling super excited. Three expensive Artist Plexi-Glosses. For free.

Upon collecting my prize at their counter, I was like, oh dear, they're all nudes. What am I going to do with them? I don't mean to sound ungrateful, though, but it could have been better if we can just got significantly different shades. Ya udahlah, Esy, gratisan aja belagu amat....







Artist Plexi-Gloss comes with a transparent plastic tube and black plastic cap. It has some unique SuperFlex applicator which helps me to create a clean line to draw on the edges of your lips. I think I might keep the applicator for further uses with my other liquid lip products. Also, it can hold enough amount of the product to cover your whole lips. I just need to dip once or twice.



Artist Plexi-Gloss is availabale in 35 different shades. From clear and nudes, to pinks, reds, purples, and even black. Srsly. And here I got three of their nudes: 200, 201, and 300P. I think the word P at the end of the description might explain the pearly finishing of the product.



Top: with camera flash
Bottom: Natural lighting

The consistency is quite thick and sticky, and I can feel the stickiness when applying them on my lips. There's a bit a fragrance that will fade gradually after applying, and this product also lacks any distinct flavor.


Shade: 200

Shade 200 is actually a light beige color when swatched on my hand. It looks almost clear on my lips and makes my face appear pale since the color is paler than my actual lip color.



Shade: 201

Shade 201 is a bit pink, but still transparent. This one is like sister to shade 200, you can judge by their names. Applied to my lips, this looks almost the same with shade 200.




Shade: 301P

This is the prettiest among these three. It has a slight peach shade with shimmer. But still, this one will look nude when applied to your lips. The shimmer is appropriate to be used day or night. I usually wear this to top any matte lipstick and it really elevates my appearance to a new level.



***


What I don't like the most is probably its stickiness. I feel my lips are a bit 'heavier' in an instant, but it really deserves its high shine effect. Artist Plexi-Gloss can last up to 4 hours on me without drinking or eating. Remember, this is lip gloss, just don't expect too much staying power. 

I never use these products alone, so I just can't give you the review about its moisturizing effect. If I have to look all shinny on my lips, I wouldn't let them look bare. 

Artist Plexi-Gloss cost USD 19 on the US and IDR 320,000. If I'm not mistaken. Despite its sticky texture, this product really worth the price, though. Especially for those of you who gets bored already with so many matte lip stain nowadays. Me, myself, would like to try the Burgundy shade. Just make sure to use the tester first because some shades don't look very opaque when applied.

Okay, so before I end this post, here are my full face pics wearing all three. They actually look different, but not significant.